Kamu, rumput, air, dan segalanya.

Hei. Kamu yang namanya belum berani kusebut dalam tulisan manapun. Akhir-akhir ini aku sering mendapat visualisasi sosokmu dalam situasi yang akan kuceritakan sebentar lagi. Ya aku jadi betul ingat kenangan satu ini cuma karena benakku belum capai juga mempertontonkannya berulang kali. Kepada diriku sendiri, kepada jiwaku.

Aku keluar dari rumah yang kebetulan berada di atas bukit, atau bukit yang kebetulan bermukim sebuah rumah di atasnya. Lalu berikutnya, dari luar ambang pintu, lebih menjorok agak jauh dari pelataran, aku melihatmu memunggungi sambil duduk manja di atas rerumputan. Oh rerumputan, nikmat mana lagi yang hendak kau rebut dariku? Aku melangkah segera. Hampir berniat mengunjungi punggungmu. Punggung kecil yang kutahu memang belum bersayap tapi sudah sering membawamu berkelana di bebas langit hingga wujudmu sulit sekali kugapai. Hingga kini. Hingga pagi ini yang menuntunku mengunjungi punggungmu lalu lekas memelukimu dengan satu cara dan seribu alasan yang segera kucari-cari ikhwalnya sembari melangkah. Tapi kuurungkan tepat di ke-tiga-puluh-satu langkahku menujumu. Sebab belum kutahu raut apa yang sedang nampang di wajahmu saat itu. Aku tak ingin menjadi duri dalam daging pipimu yang ayu. Aku tak mau memelukmu dengan gegabah. Apa dayaku selain kualihkan derapku menuju gazebo di undakan sana tempat teman-temanku bercengkrama, sambil kuciumi lentur aromamu yang dibawa angin menyertai tapakku.

Baru kusadari di tapak ke-dua-belasku menjauhi punggungmu, ternyata tak hanya rerumput menjadi dudukanmu tapi juga alir sungai menjadi hamparan matamu. Iya kamu duduk menjulur kaki ke sungai yang mengalir. Sungai yang kulupa beradanya di dekat sana padahal mungkin sudah berabad lamanya ia mengalir setia di ujung sana. Di dekatmu. Sebab parasmu membutakan keindahan lainnya, sayang. Sebab jemarimu yang baru saja pura-pura tenggelam dalam lembut arus sungai, lamat-lamat menenggelamkan hasratku pada duniawi lainnya. Dan percik-percik air yang terlempar dari jemarimu saat itu, menimbulkan pendaran bianglala yang terkoneksi langsung ke pusat saraf senyumku. Hai hei hui! Senyumku mengembang umpama kue adonan yang mulai terbakar! Aku ingin segera menyambangimu kala itu, menjadi air bagi matamu yang isaknya kutahu sering bergilir ronda keluar, menjadi rumput bagi tungkaimu yang letihnya kutahu sering menyeruak seiring menapaki roda masalah dalam hidup.

Ah aku mulai lagi sok membicarakan hidup seolah telah lebih lama kukenal hidup daripada kukenal kamu. Aku ingin membicarakanmu saja kali ini. Ingin menyergapmu sekarang. Tapi lagi-lagi urung sebab tahu-tahu bokongku telah rebah dalam dudukan bertatakan keramik ini, dingin, di sebelah teman-temanku. Apakah di sana, di sekelilingmu, dingin juga telah merayapi bokongmu atau mungkin meluluri seluruh perawakan kecilmu? Aku tak sanggup menerka-nerka sayang. Aku tak ingin kalah hanya dengan sekelumit dingin. Meski kutahu pagi di atas bukit semacam ini memang selalu menyuguhkan dingin, di dalam gelas juga dalam cengkeraman Welas.

Aku telah duduk di sini, malah kamu memilih beranjak dari selonjormu di atas rerumput di depan alir air, seraya sebelumnya kamu usap lembut air pada lekuk manis wajahmu sehingga menyisakan cetakan wajahmu di sungai ini. Hingga nantinya bisa kutemui lagi rautmu bila kukangen di alir lembut ini. Oh surgawi di tanah bumi!

Meski belum bisa kulihat jelas wajahmu dari undakan, kamu lekas pergi menuju rumah tempat tadi aku keluar dirayu alam untuk melihat punggungmu. Kamu melesak masuk. Tidak terlihat apa-apa lagi. Hanya aromamu yang masih tercium menggantikan udara di atas bukit pagi itu.

Oh iya sayang. Tadi kubilang aku tak mau memelukmu dengan gegabah. Karena memang aku hanya ingin memelukmu dengan serakah. Buat jiwaku sendiri.

GangeticDolphin

*[Ilustrasi dicomot dari situs ini]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s