Kuisi Puisi

da_vinci
[ilustrasi diambil dari situs ini]

Sekiranya puisi
tempatmu menyelam tanpa usah basah
sebagai gantinya, sila candui malam dengan kelusuh-kelasah.

Di punggung puisi
mestinya tak tampak sedu tangis
lekas jua sendu langis
sebab di sana berpeluh-peluk romantis.

Lalu puisiku padamu
melekat semacam bunyi ketuk di pintu dari tangan tamu
berisik-mengusik, mengharap kelak kita menjelma asyik.

21 Maret 2015

Iklan

Tentang Laut

dhowracing_sketch
[Ilustrasi didapat dari sini]

Di mataku ia merupa agar-agar seluas pandang
Seolah bicara; bila ada aku, masih butuhkah kau akan kandang?

Ombak menyatukannya dari butir-butir air, dengan gila pantai melerainya

Aku benci pantai sebab dengannya orang-orang bodoh menyaksikan langit dari pantulan laut
Seakan ia cermin di mana matahari lebih menggoda jika timbul-tenggelam ditiupi siur lembut

Bila kalian butuh langit, kenapa tak lari sekalian
Ke gunung? mendaki dengan lecet kaki, menggapai dengan jemari capai

Bila tujuanmu langit, pantai melemahkanmu sayang
Meski laut ingin selalu meratuimu

Pernah kudengar ia berkata pada kalian lewat debur bakda zuhur
“Naiki aku! Tunggangi Aku!!”
Namun kalian tuli telanjang sibuk melantur

Hingga kini masih bisa kucuri dengar bisiknya yang sekali lagi hanya pada kalian
Sementara di mataku ia masih sebisu agar-agar
Yang berisi tarian umat ikan segar
Dari bawah sayapku putih nan melebar

Sesayap pelikan selalu mampu terbang sayang, akan tapi
Kupilih untuk terbang tidak jauh darinya. Dari lautku.

Kamu, rumput, air, dan segalanya.

Hei. Kamu yang namanya belum berani kusebut dalam tulisan manapun. Akhir-akhir ini aku sering mendapat visualisasi sosokmu dalam situasi yang akan kuceritakan sebentar lagi. Ya aku jadi betul ingat kenangan satu ini cuma karena benakku belum capai juga mempertontonkannya berulang kali. Kepada diriku sendiri, kepada jiwaku.

Aku keluar dari rumah yang kebetulan berada di atas bukit, atau bukit yang kebetulan bermukim sebuah rumah di atasnya. Lalu berikutnya, dari luar ambang pintu, lebih menjorok agak jauh dari pelataran, aku melihatmu memunggungi sambil duduk manja di atas rerumputan. Oh rerumputan, nikmat mana lagi yang hendak kau rebut dariku? Aku melangkah segera. Hampir berniat mengunjungi punggungmu. Punggung kecil yang kutahu memang belum bersayap tapi sudah sering membawamu berkelana di bebas langit hingga wujudmu sulit sekali kugapai. Hingga kini. Hingga pagi ini yang menuntunku mengunjungi punggungmu lalu lekas memelukimu dengan satu cara dan seribu alasan yang segera kucari-cari ikhwalnya sembari melangkah. Tapi kuurungkan tepat di ke-tiga-puluh-satu langkahku menujumu. Sebab belum kutahu raut apa yang sedang nampang di wajahmu saat itu. Aku tak ingin menjadi duri dalam daging pipimu yang ayu. Aku tak mau memelukmu dengan gegabah. Apa dayaku selain kualihkan derapku menuju gazebo di undakan sana tempat teman-temanku bercengkrama, sambil kuciumi lentur aromamu yang dibawa angin menyertai tapakku.

Baru kusadari di tapak ke-dua-belasku menjauhi punggungmu, ternyata tak hanya rerumput menjadi dudukanmu tapi juga alir sungai menjadi hamparan matamu. Iya kamu duduk menjulur kaki ke sungai yang mengalir. Sungai yang kulupa beradanya di dekat sana padahal mungkin sudah berabad lamanya ia mengalir setia di ujung sana. Di dekatmu. Sebab parasmu membutakan keindahan lainnya, sayang. Sebab jemarimu yang baru saja pura-pura tenggelam dalam lembut arus sungai, lamat-lamat menenggelamkan hasratku pada duniawi lainnya. Dan percik-percik air yang terlempar dari jemarimu saat itu, menimbulkan pendaran bianglala yang terkoneksi langsung ke pusat saraf senyumku. Hai hei hui! Senyumku mengembang umpama kue adonan yang mulai terbakar! Aku ingin segera menyambangimu kala itu, menjadi air bagi matamu yang isaknya kutahu sering bergilir ronda keluar, menjadi rumput bagi tungkaimu yang letihnya kutahu sering menyeruak seiring menapaki roda masalah dalam hidup.

Ah aku mulai lagi sok membicarakan hidup seolah telah lebih lama kukenal hidup daripada kukenal kamu. Aku ingin membicarakanmu saja kali ini. Ingin menyergapmu sekarang. Tapi lagi-lagi urung sebab tahu-tahu bokongku telah rebah dalam dudukan bertatakan keramik ini, dingin, di sebelah teman-temanku. Apakah di sana, di sekelilingmu, dingin juga telah merayapi bokongmu atau mungkin meluluri seluruh perawakan kecilmu? Aku tak sanggup menerka-nerka sayang. Aku tak ingin kalah hanya dengan sekelumit dingin. Meski kutahu pagi di atas bukit semacam ini memang selalu menyuguhkan dingin, di dalam gelas juga dalam cengkeraman Welas.

Aku telah duduk di sini, malah kamu memilih beranjak dari selonjormu di atas rerumput di depan alir air, seraya sebelumnya kamu usap lembut air pada lekuk manis wajahmu sehingga menyisakan cetakan wajahmu di sungai ini. Hingga nantinya bisa kutemui lagi rautmu bila kukangen di alir lembut ini. Oh surgawi di tanah bumi!

Meski belum bisa kulihat jelas wajahmu dari undakan, kamu lekas pergi menuju rumah tempat tadi aku keluar dirayu alam untuk melihat punggungmu. Kamu melesak masuk. Tidak terlihat apa-apa lagi. Hanya aromamu yang masih tercium menggantikan udara di atas bukit pagi itu.

Oh iya sayang. Tadi kubilang aku tak mau memelukmu dengan gegabah. Karena memang aku hanya ingin memelukmu dengan serakah. Buat jiwaku sendiri.

GangeticDolphin

*[Ilustrasi dicomot dari situs ini]

Memasukimu

Aku menjadi pagi
Lalu memasukimu
Lewat remah lengket pisang goreng
Dan gemulai teh madu yang meluap dari lubang teko
Tak pernah ada bedanya malam atau siang atau senja
Tetapi kubersikukuh menjadi pagi
Sejak kurasai udara lebih sejuk
Serta geligi kita yang gemelutuk
Melepaskan bala tentara berupa kata-kata:
Keluarin di dalam atau di luar rasanya sama saja,
Asal rengkuhku punyamu, lenguhmu punyaku.

hands_hug_2_by_shahsepram-d4pzwct[Ilustrasi diambil dari situs ini]

Per Delapan

puan
[ ilustrasi diambil dari situs ini ]

Maafkan aku
yang hendak merebut kembali enam per delapan
bagianku darimu. Dengan memanggilmu
kembali di sekitar hari yang menghangat
dan buah srikaya yang tak kunjung masak di cabang dahanmu

Aku letih, maka biarkan aku istirahat tanpa kepingin lelap
dalam kata-kata kita yang nampaknya belum mengasing hanya memusing
pada seputaran kalimat apa yang bagusnya kita saling
ucap lekas hingga berpuluh paragraf pun akan
memutar kembali menjelang titik awal serupa angka delapan

Kupu-kupu bersayap turquoise baru saja menghampiriku,
menarikan sekian kepak, menyeru penggalan
suara; (mungkin) kau rebut milikmu sekarang untuk kelak kau timbun
lagi tujuh per delapan bagianmu di balik gemerisik dedaun merahnya.

4-10-2014
08.44

Bulan Tanggal Dua

lunar_600[ ilustrasi diambil dari situs ini ]

 

Alismu melengkung sunyi
Senyummu melengkung manis
Bulan tanggal dua
Di bumi sunyi
Terlalu manis

Berjagalah di kaki langit
Pandangi sebuah bintik mimpi
Temukan hasrat yang tersisa
dari mimpi itu, yang akan
mengantar pulang menuju surganya
Mimpi itu, entah aku
atau siapapun
Tetaplah berjaga di kaki langit

Aku di sudut maya menggertak
kaca, memohon kepadanya
sudut maya terlalu sempit untuk berdua.

7-10-2007
21:15

Puisi teruntuk Puan lain

senyum
[ilustrasi diambil dari situs ini]

Senyumanku senyuman maut loh, ancammu.

Yang hendak kugirangi karena jelas lama telah kuincar mati dalam mewah peraduan
atau sekadar meledeki Anubis bahwa aku akan mati tidak diceburi genangan balsam
mungkin pula kan kusedekahkan sekilas lambai tangan pada raupan jemari Izrail
Apa rasanya bila mati bisa kugapai dalam hasratmu, Puan?
Kuhitung deret serdadu gigimu, mereka sungguh serupa
hitung mundur si bom waktu
Tigapuluhdua sampai kurang dari satu.

Aku melekat pada sukacita jelang detak-detik penghabisan.

Setelah Seharian

selangka

[gambar diambil dari sini]

 

Jauh sebelum kutunggu jandamu, telah kutelusur tandamu

Kasih

Dari yang berbau aroma cokelat hingga dibayangi benakku akan sungai-sungai mengalir lembut di dua alur selangkamu

Sungai-sungai yang tak butuh bendung supaya selalu diseru badung

Aku belum dapat meneguk alirnya namun lidahku kian mengangguk liurnya

Merasa puas dihausi, ketika kemudian berbondong datang angin sungai yang mencuat dari gua di atas dagumu

Yang berebut menggelayut telingaku yang didekap selimut ganggang lelah hijau lumut

Untuk sekadar lalu segar

Semacam mata air membasuh telapak tangan setelah seharian merah berjalan terbalik di neraka

 

Juga jauh sebelum kutunggu jandamu, kasih, telah kutimang candamu

Yang ramah mengadu dalam pangku, mengikik di atas bangku

(Ya bangku panjang yang setiap orang tahu kita duduki ia, namun tak tahu telah kubangun paviliun tersembunyi untuk kita titipkan resah sementara di dalamnya, selagi kita hilir-mudik menyiapkan diri menghadapinya.)

Dulu, kita tukar banyak resah dengan lebih banyak canda

Atau sekarang pun belum jadi kita, hanya aku yang buta tanda

Lalu kamu yang nantinya jauh dari kata janda

 

Aku benci kutukan. Tapi ia nyaru dalam wicara seperti lagu dalam ketukan.

Yang Kecil Yang Girang

takbirtaaak

Peci lusuh dan wajah suntuk mereka di beberapa hari sebelumnya, dikarenakan letih tiap malam menjejali masjid akibat dibopong orang tua, menjelang malam ini seperti mengelupas berganti kulit. Bersemu kegirangan. Ramai-ramai mereka berteriak, “Malam ini tidak ada! Hore! Malam pembebasan karena esok hari suci!”. Sukacita melutu kalbu. Senyum tak dapat disembunyikan dari wajah kecil mereka, kendati mereka sendiri kebingungan kenapa malam ini bisa sesenang ini. Pasti bukan hanya karena tidak ada ibadah malam yang dalam sebulan datang melulu, bukan hanya esok akan banyak makanan di rumah-rumah mereka, bukan hanya esok saat yang asyik untuk memanen pundi-pundi uang sebab para orang dewasa berubah jadi si baik hati perihal kekayaan. Pasti bukan hanya itu. Tapi mereka tahu, meski bukan hanya karena itu saja, mereka bisa merasakan kesenangan sebegini besarnya.

Maghrib pertandanya. Setelah itu seruan-seruan mulai mengalir membanjiri udara. Percak-percik kembang api mewarnai langit. Hentakan gelegar bunyi petasan mengarungi jalanan, mengageti jantung kami semua yang sepertinya tidak keberatan malam ini jadi terlalu bising. Peci-peci lusuh tapi girang itu hilir mudik, beberapa di antaranya melangkah ke arahku, meminta izin,

“Boleh saya yang pukul, kak?”

“Ya silakan”, senyumku.

Raut mereka mengembang segar, lantang berteriak, “Tuhanku maha besar! Tuhanku maha akbar!”

Perihal Cicak

cicak_black_and_white_by_wanajimagum-d3i02xs[gambar diambil dari sini]

 

Kalian kenal cicak? Tidak ada manusia yang tidak mengenal cicak. Tetapi tidak ada manusia yang tahu seberapa bersahabatnya cicak. Ya kecuali orang-orang terpilih yang suatu waktu pernah diberi ‘pendengaran’ oleh para cicak. Para binatang melata. Kalian hanya tahu nama tapi tidak pernah benar-benar ingin bersahabat dengan mereka. Malah terakhir saya baca artikel ada agama yang menyunahkan membunuh cicak. Mereka salah apa?

Biar saya tanya lebih dulu, sejauh apa kalian tahu tentang cicak? Saya berani taruhan yang kalian tahu hanya soal mimikri. Kemampuannya memutuskan ekor untuk mengelabuhi musuh. Satu-satunya pelajaran tentang cicak yang kalian terima sejak duduk di bangku sekolah dasar sampai sekarang. Mimikri dilakukan karena si ekor bisa tumbuh lagi sewaktu-waktu. Tapi sekarang bahkan sudah masa damai. Cicak-cicak rumahan hampir tidak punya musuh. Musuh mereka hanya manusia yang menjerit-jerit kegelian padahal melihat cicak dari jarak yang cukup jauh. Mereka jadi pembunuh. Lalu kalian pikir mimikri sekarang masih berguna? Apa ada manusia yang cukup bodoh untuk dikelabuhi seekor cicak dengan buntutnya yang gerak-gerak lucu begitu? Cicak tidak sebodoh itu kawan.

Pelajaran tentang mimikri hampir tidak pernah lagi diajarkan di sekolah para cicak, itu yang saya dengar dari penuturan seekor cicak pada suatu senja. Mereka mulai memikirkan cara lain untuk mengakrabkan diri dengan manusia, bahkan sejak lama. Saya diperdengarkan bukti absahnya. Bahkan cicak dengan ikhlas tanpa pamrih memberi suri tauladan pada kita, manusia.

Pertama, kalau ‘tiada gading yang tak retak’ maka ‘tiada dinding yang belum pernah dihinggapi cicak’. Sayang peribahasa itu belum sempat menjalar dan terkenal dalam dunia manusia. Hanya terkenal di dunia cicak. Sekali lagi karena manusia hanya tahu soal mimikri. Cicak mengajarkan kita untuk menjelajahi setiap sudut yang bisa dijelajahi. Tak jarang kan kalian lihat cicak nongol dari belakang kaca kamar mandi? Atau dari tembok yang tertutupi perabotan? Mereka seolah memberitahu tidak ada tempat yang tidak mungkin tidak bisa dijelajahi. Sesempit apapun itu. Malah kadang cicak melindungi pojok tembok rumah kita dari bermukimnya sarang laba-laba. Mereka mungkin benar hidup untuk kita.

Kedua, cicak-cicak di dinding//diam-diam merayap//datang seekor nyamuk//hap//lalu ditangkap. Sekali lagi tidak ada yang tidak tahu lagu itu. Tapi juga tidak ada yang benar-benar peduli pada syairnya. Kira-kira apa tujuannya syair lagunya begitu? Anak-anak kecil yang diperdengarkan mungkin diajarkan untuk menganggap cicak itu lucu dan menggemaskan. Sewaktu kecil. Tapi begitu besar mereka akan membenci dan menginjaknya. Entah kenapa. Duh. Padahal lagu itu hanya mengajarkan satu hal, cicak datang dan hidup untuk menyingkirkan nyamuk. Bukankah itu membantumu, manusia?

Saya pun yakin yang menciptakan syair dalam lagu ini adalah manusia terpilih sebelum saya yang pernah diajak bicara empat mata satu ekor dengan si cicak dan untuk membalas budi baik atas percakapan mereka, manusia itu membuatkan syair lagu yang bertahan sepanjang masa. Andai semua manusia bisa mamahami cicak setulus itu.

Saya pernah sampai melakukan riset kecil untuk perihal ini. Seekor cicak yang pernah mengajak saya bicara saya taruh dalam tempat transparan yang tertutup bersamaan dengan tujuh belas nyamuk di dalamnya. Selama hampir enam jam, tidak ada nyamuk satupun yang di-hap-kannya. Si cicak cuma menjawab satu alasan. Mereka tidak pernah memakan nyamuk yang tidak sedang atau sudah menghisap darah manusia, yang dilihatnya dengan mata kepala cicaknya sendiri. Mereka membalaskan dendam para manusia pada nyamuk. Indah bukan?

Ketiga, apa kalian pernah kejatuhan cicak dari atas langit-langit? Kalau ya berarti kalian harus menyimak pernyataan setelah ini. Mereka, para cicak menjatuhkan diri dari atas hanya karena mereka percaya pada manusia. Percaya manusia tidak akan membunuh mereka cuma karena hal sepele ini, karena manusia telah mengenal nama cicak sedari mereka kecil. Tetapi alhasil kebanyakan manusia lupa pada apa yang ia pelajari dari masa kecil. Terjadilah pembunuhan. Padahal alasan kenapa cicak suka menjatuhkan diri dari atas begitu cuma satu. Tidak lain karena itu adalah jalan tercepat bagi cicak yang sedang berdiri di atas langit-langit untuk dapat turun menjejalkan kaki di lantai bumi lagi. Pulang menuju sarang tercinta. Hanya itu. Semacam jalan pintas. Apa salahnya? Bukannya manusia juga suka mencari jalan pintas malahan sering bertentangan dengan moral yang dianut?

Cicak-cicak percaya pada manusia. Hanya saja cicak tidak bisa dengan tepat memperkirakan posisi di mana mereka jatuh yang terkadang mampir dulu di pundak manusia, di dalam mangkok bakso, atau tempat lainnya. Asal-usul terjadinya pembunuhan terhadap cicak. Kalian tahu semut juga bisa menempel di dinding kan? Pernah kejatuhan semut dari langit-langit rumah? Pasti jarang. Karena berbeda dengan cicak, semut tidak percaya sepenuhnya pada manusia. Mungkin para semut sebal karena mereka sering sekali diinjak manusia, juga dibunuh secara sengaja. Meski sudah diajarkan pula melalui lagu ‘semut-semut kecil’ semasa kanak-kanak. Pelajaran semasa kecil selalu menguap tatkala masalah pada masa dewasa mengambil alih. Lalu semut pun lebih memilih jalan kaki jauh hanya untuk kembali ke lantai. Tidak seperti cicak yang percaya, dan berserah pada apapun pilihan manusia yang kejatuhan diri mereka. Cicak hanya ingin pulang melalui jalan pintas agar cepat menuju sarang, hanya untuk nantinya kembali memburu menangkapi nyamuk yang menghisap pelan-pelan darah kita. Manusia.

Roi. Cerita sehabis dibisiki cicak yang sengaja jatuh di dekat kupingnya.